Antisipasi El Nino 2026, Kementan Perkuat Strategi Mitigasi Kemarau dan Percepatan Tanam Nasional
Sigi, 2 April 2026. Menghadapi potensi musim kemarau yang diprediksi semakin ekstrem, Kementerian Pertanian bergerak cepat melalui Rapat Koordinasi Antisipasi Kemarau 2026 yang dilaksanakan secara hybrid. Langkah ini menjadi strategi kunci untuk menjaga stabilitas produksi pangan nasional sekaligus mempercepat capaian luas tambah tanam (LTT).
Kepala BRMP Sulawesi Tengah Dr. Ruslan Boy, SP., M.Si., bersama Tenaga Ahli Menteri (TAM) bagian kerjasama sektor pertanian Prof. Ir. Moh. Arsyad, SP., M.Si., Ph.D., dan Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Dr. Muh. Amin, S.Pi., M.Si, didampingi seluruh Penanggung Jawab (PJ) swasembada pangan serta penyuluh BPPSDMP CWS, mengikuti rapat secara daring dari Aula Kantor BRMP Sulawesi Tengah dengan kesiapsiagaan penuh.
Dalam arahannya, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian menekankan bahwa mitigasi kemarau harus dilakukan secara sistematis dan berbasis data. Pemetaan wilayah rawan kekeringan yang terintegrasi dengan sistem peringatan dini menjadi fondasi utama untuk menentukan langkah cepat di lapangan. Selain itu, optimalisasi pengelolaan sumber daya air menjadi prioritas, melalui rehabilitasi jaringan irigasi, pembangunan embung, pemanfaatan sumur dangkal, serta penerapan teknologi pompanisasi dan perpipaan.
Upaya percepatan tanam juga menjadi fokus strategis, dengan mendorong penggunaan varietas unggul genjah dan tahan kekeringan, serta penyesuaian pola tanam sesuai karakteristik iklim di masing-masing wilayah. Sinergi lintas sektor ditekankan sebagai faktor penentu keberhasilan dalam mengendalikan dampak kemarau.
Menteri Pertanian dalam arahannya memberikan penegasan lebih lanjut terkait potensi fenomena El Nino yang telah diperingatkan oleh BMKG. Kondisi ini menuntut respons cepat, presisi, dan terukur dari seluruh daerah. Kebutuhan sarana irigasi pompa, baik sumur dalam maupun dangkal, diminta segera diusulkan secara daring paling lambat satu minggu pasca rapat.
Di sisi lain, ketersediaan alat dan mesin pertanian untuk mendukung program cetak sawah juga harus segera dipenuhi. Percepatan tanam pada lahan baru serta optimalisasi lahan rawa menjadi prioritas utama, disertai kewajiban penyampaian target tanam periode April hingga Juni 2026 sebagai indikator kesiapan daerah dalam menjaga kesinambungan produksi.
Melalui koordinasi yang intensif dan terstruktur ini, BRMP Sulawesi Tengah bersama seluruh pemangku kepentingan diharapkan mampu memperkuat respons terhadap risiko kemarau, menjaga ritme tanam tetap optimal, serta memastikan produksi pangan nasional tetap stabil.Langkah cepat, terukur, dan kolaboratif menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, sekaligus memperkuat fondasi ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Penulis : Mar'atus Sholihatul Amanah
Editor : Hamka Biolan